A.
STANDAR
KOMPETENSI :
Mendengarkan : 5. Memahami puisi yang disampaikan secara
langsung/ tidak langsung
B.
KOMPETENSI
DASAR :
5.1 Mengidentifikasi
unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui
rekaman
C.
MATERI
PEMBELAJARAN :
Pembacaan Puisi Secara Langsung
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan
angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru
kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang
berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi
debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa
memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang
berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang
berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan
impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948) Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957
A.
Majas
Majas yang ada dalam puisi antara lain :
1.
Metafora, yakni
pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan
makna yang lain selain makna sebenarnya.
2.
Metonimia, yakni
pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang,
benda, atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu.
3.
Anafora, yakni
pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan
untuk penekanan atau keefektifan bahasa.
4.
Oksimoron, yaitu
majas yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya
bertentangan.
B.
Irama
Pengertian
1.
Irama merupakan bagian dari struktur
fisik dalam kajian puisi.
2.
Irama dalam bahasa asing yaitu rhythm
(ing), ritme (ind).
3.
Irama dalam bahasa adalah
pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan
teratur.
4.
Secara umum dapat disimpulkan
bahwa irama itu pergantian berturut-turut secara teratur.
Menurut R.J. Pradopo, irama dapat dibagi menjadi dua, yaitu
:
a.
Metrum
ü metrum jambis, tiap kaki sajak terdiri dari sebuah suku kata tak
bertekanan diikuti suku kata yang bertekanan
ü metrum anapes, tiap kaki sajak terdiri dari tiga suku kata yang tak
bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekan, kemudian diikuti suku kata yang
bertekanan.
ü Metrum trochee atau trocheus, tiap kaki sajaknya terdiri dari suku kata
yang bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekanan.
b.
Ritme
Ritma merupakan tinggi
rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam
pembacaan puisi.
Timbulnya irama dalam puisi disebabkan oleh:
1.
Perulangan bunyi berturut-turut
dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi.
2.
Adanya paralelisme-paralelisme,
ulangan-ulangan kata dan ulangan-ulangan bait.
3.
Adanya tekanan kata yang
bergantian keras lemah, yang disebabkan oleh sifat-sifat konsonan dan vokalnya
atau panjang pendek kata juga disebabkan oleh kelompok-kelompok sintaksis:
gatra atau kelompok kata.
Fungsi irama dalam puisi :
1.
Puisi terdengar merdu
2.
Mudah dibaca
3.
Menyebabkan aliran perasaan atau
pikiran tak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan
(imaji-imaji) yang jelas dan hidup.
4.
Menimbulkan pesona atau daya magis
C.
Kata-kata konotasi (pertemuan ke 2)
Menurut
Soedjito(dalam Dewi, 2010:9), makna denotatif (referensial) adalah makna yang menunjuk langsung pada acuan atau
makna dasarnya, sedangkan makna konotatif (evaluasi
atau emotif) adalah makna tambahan terhadap makna dasarnya yang berupa
nilai rasa atau gambaran tertentu. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas
mengenai perbedaan kata bermakna denotatif dan bermakna konotatif, dapat
dilihat dari contoh berikut ini.
|
kata
|
Makna
denotatif
|
Makna
konotatif
|
|
Hitam
|
Jenis warna
|
Berduka cita
|
|
Mampus
|
Mati
|
Kasar (mati)
|
|
babi
|
binatang
|
Haram/najis
|
Contoh-contoh
di atas memberikan gambaran bahwa kata hitam dan mampus, merupakan kata-kata
yang menunjukkan langsung pada acuan/makna dasarnya, sedangkan kata duka cita
dan kasar, merupakan makna tambahan yang sudah bernilai rasa. Berikut ini
penggunaan makna denotatif dan konotatif dalam kalimat:
a.
Anak-anak yang di aula itu sedang berebut kursi karena pertunjukan segera
dimulai.
b.
Siapapun yang bermaksud berebut kursi pimpinan perusahaan harus
memenuhi syarat yang telah ditentukan formatur.
(setyana,1999:57)
Contoh (1)
merupakan contoh penggunaan kata denotatif. Kata kursi merupakan kata denotatif
karena mengacu pada makna sebenarnya yang bermakna benda yang berfungsi sebagai
tempat duduk. Sementara contoh(2) merupakan contoh penggunaan kata konotatif.
Kata kursi memunyai arti jabatan, kata kursi memunyai nilai rasa yang tinggi
daripada kata jabatan.
Sejalan
dengan Soedjito, Oka dan Soeparno (1994:235) menyatakan bahwa makna denotatif
merupakan makna dasar suatu kata atau satuan bahasa yang bebas dari nilai rasa,
sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang merupakan makna tambahan dan
memiliki nilai rasa. Nilai rasa itu dapat bersifat positif dan bersifat
negatif. Maksud dari konotasi positif dan negatif menurut Chaer (dalam Oka dan
Soeparno,1994:235), dapat dilihat dari contoh tabel di bawah ini:
|
Wanita
|
Perempuan
|
|
1.
Berpendidikan lebih/tinggi
|
Berpendidikan kurang
|
|
2.
Modern dalam segala hal
|
Tidak atau kurang modern
|
|
3.
Kurang berperasaan keibuan
|
Berperasaan keibuan
|
|
4.
Malas ke dapur
|
Rajin ke dapur
|
Dari contoh
di atas dapat disimpulkan bahwa kata wanita
memunyai konotasi positif karena memiliki nilai rasa lebih sopan dan tinggi
dibandingkan kata perempuan.
Dari uraian
tentang kata denotasi dan konotasi di atas, dapat disimpulkan bahwa kata
bermakna denotasi dan kata bermakna konotasi memunyai sejumlah ciri-ciri. Ciri
kata bermakna denotasi yaitu:
a.
Makna kata sesuai apa adanya,
b.
Makna kata sesuai hasil observasi,
c.
Makna yang menunjukkan langsung pada acuan
atau makna dasarnya.
Ciri kata
bermakna konotasi yaitu:
a.
Makna tidak sebenarnya,
b.
Makna tambahan yang dikenakan pada sebuah
makna konseptual, dan
c.
Makna tambahan berupa nilai rasa.
2.1.
Penganalisisan puisi Angkatan Buta.
Angkatan
Buta
Mau apa
datang kemari
Hanya unjuk rai
Ijazah harga
serupiah
Tak perlu
bersusah bergelut berbuku
Dari jauh
berlabuh
Hanya pamer
bentuk tubuh
tak butuh
Menjauh!
Jika otak
angankan angka
Tinggalkan
pikir
Plagiatkan
diri
Hanya
inginkan liur
Mending
mendengkur! Nglindur!
Tak mampu
matamu lihat dunia
Tangis!
Bengis! Najis! Pengais!
Tusukkan
garpu makan
Butakan
sekalian!
Pundak punah
perkasanya
Sana! Sudahi
saja sisa usia
Muntijo
Dalam puisi
di atas ada beberapa kata yang memunyai makna denotatif dan konotatif yang akan
kita bahas perbaris.
1.
Baris pertama
Mau apa datang kemari
Kata tersebut
di atas tergolong memunyai makna denotatif. Karena kata-kata tersebut di atas
merupakan sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada pembaca tentang tujuannya
datang ke sebuah tempat.
2.
Baris kedua
Hanya unjuk rai
Dalam baris
kedua tersebut terdapat makna konnotatif yang memunyai nilai negatif. Kata
unjuk rai yang berarti wajah (kasar) dalam bahasa jawa diartikan sebagai
memperlihatkan diri, kelebihan, ataupun hartanya.
3.
Baris ketiga
Ijazah harga serupiah
Kata ijazah
dalam baris ketiga memunyai arti denotatif sekaligus arti konotatif. Arti
denotatif dari ijazah yaitu surat keterangan lulus ataupun sejenisnya.
Sedangkan makna konotatifnya adalah ijazah bermakna gelar.
Kata yang
mengandung makna konotatif dalam baris ketiga yang lain adalah kata serupiah yang diartikan tidak memunyai
harga. Jadi, di baris ketiga ini bisa bermakna bahwa ijazah ataupun gelar tidak
memunyai harga.
4.
Baris ke empat
Tak perlu bersusah bergelut berbuku
Memunyai arti
denotatif saja atau hanya makna asli yang terdapat di dalamnya, sebagai
lanjutan dari kata-kata baris kedua.
5.
Baris ke lima
Dari jauh berlabuh
Kata berlabuh
dalam baris ke lima juga memunyai makna denotatif dan konotatif. Arti
denotatifnya adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan bahwa perahu akan
bersandar di dermaga. Namun di baris ke lima ini kata berlabuh memunyai makna
datang.
6.
Baris ke enam
Hanya pamer bentuk tubuh
Kata tersebut
di atas hanya memunyai makna denotatif. Yaitu datang hanya untuk pamer bentuk
tubuh. Bisa juga di artikan mejeng.
7.
Baris ke tujuh dan delapan
tak butuh
Menjauh!
Baris ke
tujuh dan delapan masih hanya memunyai makna denotatif saja. Kata-kata itu
dipakai pengarang untuk meluapkan apa yang dirasakan oleh pengarang.
8.
Baris ke sembilan
Jika otak angankan angka
Dalam baris
ke sembilan ini pengarang mencoba menggambarkan bahwa seolah-olah yang di
imajinasikan pengarang adalah mahasiswa yang hanya berpikiran tentang sebuah
nilai yang akan di dapat. Jadi, disini memunyai makna konotatif.
9.
Baris ke sepuluh dan sebelas
Tinggalkan pikir
Plagiatkan diri
Kata-kata
yang terdapat di baris ke sepuluh dan sebelas memunyai kaitan makna dengan
baris ke sembilan. Baris ke sepuluh dan sebelas bermakna tidak mau berpikir dan
hanya bisa mengopy paste pekerjaan orang lain. Pada baris ke sepulih dan
sebelas juga memunyai makna konotatif.
10.
Baris ke dua belas
Hanya inginkan liur
Kata hanya inginkan liur memunyai makna
konotatif, yaitu hanya ingin bersantai saja.
11.
Baris ke tiga belas
Mending mendengkur! Nglindur!
Baris ke tiga
belas juga bermakna konotatif. Yakni memunyai arti mendingan sekalian bersantai
sampai sesantai-santainya.
12.
Baris ke empat belas dan lima belas
Tak mampu matamu lihat dunia
Tangis! Bengis! Najis! Pengais!
Pada baris ke
empat belas dan lima belas juga memunyai makna konotatif. Yaitu seolah-olah
yang di imajinasikan oleh pengarang tak mampu melihat atau merasakan bagaimana
kehidupan itu yang sebenarnya. Yang
semula juga di imajinasikan hanya ingin bersantai. Tidak bisa merasakan tangisan,
bengis, najis, ataupun melihat keadaan pengais.
13.
Baris ke enam belas dan tujuh belas
Tusukkan garpu makan
Butakan sekalian!
Makna
konotatif juga muncul pada baris ke enam belas dan tujuh belas. Yaitu pada
kata-kata Tusukkan garpu makan, butakan
sekalian!. Makna dari kata-kata tersebut disini adalah berikan saja mereka
kenyamanan sekalian. Karena biasanya orang desa yang makan memakai garpu adalah
ketika memakan makanan enak, atau mungkin juga karena latar belakang pengarang
yang juga orang desa. Sedangkan kata-kata butakan sekalian bermaksud agar
mereka semua yang bersantai,tetap larut dalam kesantaian dan kenyamanan itu,
tetap tidak memperdulikan semua trangisan, bengis, najis, dan pengais yang
dikatakan oleh pengarang sebelumnya.
14.
Baris ke delapan belas
Pundak punah perkasanya
Di baris ke
delapan belas ini semuanya kata-katanya mengandung makna konotatif. Yang
dimaksud pundak disini adalah
generasi muda. Jika dikaitkan dengan kata dan bait sebelumnya, maka arti disini
adalah jika para pemuda semua sudah kehilangan semangat dan hanya
bersantai-santai, hilanglah pula kekuatan atau keunggulan dari para generasi
tersebut.
15.
Baris ke sembilan belas
Sana! Sudahi saja sisa usia
Makna
konotatif yang terkandung disini adalah seperti halnya kata “mati saja!”.
Dengan rincian jika dikaitkan dengan kata dan bait sebelumnya. Daripada menjadi
generasi yang kurang bersemangat dan hanya bisa bersantai-santai saja,
mendingan mati saja, daripada hidup hanya menjadi benalu tanpa sumbangsih
apapun dan tanpa kerja keras.
D.
Kata-kata bermakna (pertemuan ke 2)
Pengiasan merupakan cara penyair mengkonkretkan
konsep-konsep yang abstrak dengan penggunaan kata-kata kias, dan perilaku
pengiasan dalam pemakaian bahasa sehari-hari atau dengan kata lain pengiasan
ialah penggunaan kata atau ungkapan dalam puisi sedemikian rupa sehingga timbul
makna kias yang dapat memperjelas, melengkapi, dan memperkhas imaji sesuatu
yang diungkap dalam puisi. Jadi pengiasan bukan upaya puisi menjadi pelik
tetapi supaya lebih konkret, cermat, dan tepat sehingga dengan mudah pula dapat
ditangkap, dirasa, dan didengar oleh pembacanya.
Perhatikan puisi karya Chairil Anwar berikut:
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Puisi merupakan genre sastra yang paling banyak
menggunakan makna kias. Kata-kata yang dipilih penyair dipertimbangkan betul
dari aspek dan efek pengucapannya. Makna kias kadang sulit ditafsirkan.
Misalnya dalam puisi “Aku” karya Khairil Anwar, binatang jalang dari
kumpulannya terbuang dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan
berada di luar organisasi formal. Karena yang sakit bukan fisik melainkan
jiwanya, maka luka dan bisa kubawa berlari, terus berlari. Dengan berlari maka
akan hilang pedih peri(h). Jika luka fisik, tentu akan sulit hilang pedih
perihnya tetapi karena yang luka adalah jiwa maka dengan dibawa berlari atau
tidak dihiraukan, pedih perih luka itu akan hilang.
Pengiasan yang membandingkan suatu hal dengan
yang lain dipergunakan untuk merangsang daya bayang pembaca atau pendengar. Mengiaskan
suatu keadaan dapat dilakukan secara langsung seperti yang sudah dijelaskan di
atas dan dapat juga dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan
kata-kata seperti, umpama, bagai, laksana, dan sebagainya. Perhatikan puisi
karya Lea Cancerina berikut:
SEMINYA ANGGREK DI HALAMAN DEPAN
Putih bagai buih
seputih cinta yang kumiliki,
seputih kasih yang kunikmati
darinya...
dia datang ...
di kala anggrek di halaman
sedang semi,
mekar ... harum ... putih
Di ujung Juli
diawal bulan kedelapan
ambang bahagia terpancang
di muka kita berdua
Saksi abadi ...
kekal, tenang bahagia
bersama seminya anggrek di halaman
Kiasan dalam baris (1), (2), dan (3) bait
pertama adalah kiasan tak langsung. Kiasan dalam baris (1), (2), dan (3) bait
ketiga adalah kiasan tak langsung. Penafsiran makna dalam kiasan tidak langsung
biasanya lebih sulit daripada penafsiran makna dalam kiasan langsung.
E.
Lambang
(pertemuan ke 2)
Perlambangan
merupakan cara penyair mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak dengan
penggunaan kata-kata lambang, dan perilaku perlambangan dalam pemakaian bahasa
sehari-hari.
Dalam
puisi, banyak digunakan lambang yaitu penggantian suatu hal atau benda dengan
hal atau benda lain. Ada lambang yang bersifat kedaerahan, nasional maupun
universal. Misalnya bendera adalah lambang identitas negara, bersalaman adalah
lambang persahabatan, pertemuan atau perpisahan. Adapun jenis-jenis lambang
yang ada dalam puisi meliputi lambang benda, lambang warna, lambang bunyi, dan
lambang suasana.
Lambang
warna memberi makna tambahan pada warna untuk mengganti atau menambahkan makna
sesungguhnya. Misalnya warna hitam melambangkan kesedihan, warna putih
kesucian, warna kuning kesetiaan, warna biru harapan, dan sebagainya.
Lambang
bunyi artinya makna khusus yang diciptakan oleh bunyi-bunyi atau perpaduan
bunyi-bunyi tertentu. Misalnya bunyi seruling yang mendayu-dayu mengingatkan
pada tanah pasundan, jawa barat.
Lambang
suasana artinya peristiwa atau keadaan yang tidak digambarkan seperti apa
adanya, tetapi diganti dengan keadaan yang lain. Misalnya hujan gerimis
melambangkan suasana sedih, lintang kemukus melambangkan bencana, dan
sebagainya
Lambang
benda menggantikan suatu hal dengan benda misalnya dalam puisi Rendra yang
berjudul “Surat Kepada Bunda Tentang Calon Menantunya”, burung dara jantan
melambangkan orang yang setia, sepatu yang berat serta nakal melambangkan
jejaka yang belum berumah tangga.
Perhatikan
puisi karya Bambang Sugeng berikut:
SEPANJANG
JALUR HITAM
sepanjang
jalur hitam
ada
penyesalan diri
entah
terpaksa atau dipaksa
oleh
keadaan
kini
tinggal sepercik pengharapan
untuk
bertaubat kepada-Nya
belumlah
terlambat
(sepanjang
jalur hitam
tidak
seluruhnya hitam).
Larik
pertama puisi di atas mengandung makna lambang yaitu jalur hitam. Yang dimaksud
jalur adalah jalan hidup dan yang dimaksud hitam adalah gelap, suram, atau
dosa. Jalur hitam ditafsirkan secara simbolis sebagai jalan hidup yang gelap,
jalan hidup yang menyimpang dari jalan kebenaran.
D.
INDIKATOR
PENCAPAIAN KOMPETENSI :
|
No
|
Indikator
Pencapaian Kompetensi
|
Nilai
Budaya Dan Karakter Bangsa
|
Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif
|
|
1
|
Mengidentifikasi
(majas, rima, kata-kata berkonotasi dan bermakna lambang)
|
·
Bersahabat/ komunikatif
·
Tanggung
jawab
|
·
Kepemimpinan
|
|
2
|
Menanggapi
unsur-unsur puisi yang ditemukan
|
||
|
3
|
Mengartikan kata-kata berkonotasi dan makna
lambang
|
E.
TUJUAN
PEMBELAJARAN* :
Siswa dapat:
1.
Mengidentifikasi majas/gaya bahasa
yang dipergunakan oleh penyair.
2.
Mengidentifikasi rima atau
persajakan akhir.
3.
Mengidentifikasi kata-kata
berkonotasi dan bermakna lambang.
4.
Menanggapi unsur-unsur puisi yang
ditemukan
5.
Mengartikan
kata-kata berkonotasi dan makna lambang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar