Senin, 22 Oktober 2012

Kompetensi Dasar 5.1


A.          STANDAR KOMPETENSI :
Mendengarkan : 5.   Memahami puisi yang disampaikan secara langsung/ tidak langsung

B.           KOMPETENSI DASAR :
5.1    Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman  

C.          MATERI PEMBELAJARAN :
Pembacaan Puisi Secara Langsung

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948) Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957

A.     Majas
Majas yang ada dalam puisi antara lain :
1.      Metafora, yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya.
2.      Metonimia, yakni pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda, atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu. 
3.      Anafora, yakni pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa. 
4.      Oksimoron, yaitu majas yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan. 
B.      Irama
Pengertian
1.       Irama merupakan bagian dari struktur fisik dalam kajian puisi.
2.       Irama dalam bahasa asing yaitu rhythm (ing), ritme (ind).
3.       Irama dalam bahasa adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur.
4.       Secara umum dapat disimpulkan bahwa irama itu pergantian berturut-turut secara teratur.


Menurut R.J. Pradopo, irama dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a.      Metrum
ü  metrum jambis, tiap kaki sajak terdiri dari sebuah suku kata tak bertekanan diikuti suku kata yang bertekanan
ü  metrum anapes, tiap kaki sajak terdiri dari tiga suku kata yang tak bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekan, kemudian diikuti suku kata yang bertekanan.
ü  Metrum trochee atau trocheus, tiap kaki sajaknya terdiri dari suku kata yang bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekanan.
b.       Ritme
      Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

Timbulnya irama dalam puisi disebabkan oleh:
1.      Perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi.
2.      Adanya paralelisme-paralelisme, ulangan-ulangan kata dan ulangan-ulangan bait.
3.      Adanya tekanan kata yang bergantian keras lemah, yang disebabkan oleh sifat-sifat konsonan dan vokalnya atau panjang pendek kata juga disebabkan oleh kelompok-kelompok sintaksis: gatra atau kelompok kata.

Fungsi irama dalam puisi :
1.      Puisi terdengar merdu
2.      Mudah dibaca
3.      Menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji-imaji) yang jelas dan hidup.
4.      Menimbulkan pesona atau daya magis

C.    Kata-kata konotasi (pertemuan ke 2)
Menurut Soedjito(dalam Dewi, 2010:9), makna denotatif (referensial) adalah makna yang menunjuk langsung pada acuan atau makna dasarnya, sedangkan makna konotatif (evaluasi atau emotif) adalah makna tambahan terhadap makna dasarnya yang berupa nilai rasa atau gambaran tertentu. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perbedaan kata bermakna denotatif dan bermakna konotatif, dapat dilihat dari contoh berikut ini.
kata
Makna denotatif
Makna konotatif
Hitam
Jenis warna
Berduka cita
Mampus
Mati
Kasar (mati)
babi
binatang
Haram/najis

Contoh-contoh di atas memberikan gambaran bahwa kata hitam dan mampus, merupakan kata-kata yang menunjukkan langsung pada acuan/makna dasarnya, sedangkan kata duka cita dan kasar, merupakan makna tambahan yang sudah bernilai rasa. Berikut ini penggunaan makna denotatif dan konotatif dalam kalimat:
a.       Anak-anak yang di aula itu sedang berebut kursi karena pertunjukan segera dimulai.
b.      Siapapun yang bermaksud berebut kursi pimpinan perusahaan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan formatur.
(setyana,1999:57)
Contoh (1) merupakan contoh penggunaan kata denotatif. Kata kursi merupakan kata denotatif karena mengacu pada makna sebenarnya yang bermakna benda yang berfungsi sebagai tempat duduk. Sementara contoh(2) merupakan contoh penggunaan kata konotatif. Kata kursi memunyai arti jabatan, kata kursi memunyai nilai rasa yang tinggi daripada kata jabatan.
Sejalan dengan Soedjito, Oka dan Soeparno (1994:235) menyatakan bahwa makna denotatif merupakan makna dasar suatu kata atau satuan bahasa yang bebas dari nilai rasa, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang merupakan makna tambahan dan memiliki nilai rasa. Nilai rasa itu dapat bersifat positif dan bersifat negatif. Maksud dari konotasi positif dan negatif menurut Chaer (dalam Oka dan Soeparno,1994:235), dapat dilihat dari contoh tabel di bawah ini:
Wanita
Perempuan
1.      Berpendidikan lebih/tinggi
Berpendidikan kurang
2.      Modern dalam segala hal
Tidak atau kurang modern
3.      Kurang berperasaan keibuan
Berperasaan keibuan
4.      Malas ke dapur
Rajin ke dapur

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa kata wanita memunyai konotasi positif karena memiliki nilai rasa lebih sopan dan tinggi dibandingkan kata perempuan.
Dari uraian tentang kata denotasi dan konotasi di atas, dapat disimpulkan bahwa kata bermakna denotasi dan kata bermakna konotasi memunyai sejumlah ciri-ciri. Ciri kata bermakna denotasi yaitu:
a.       Makna kata sesuai apa adanya,
b.      Makna kata sesuai hasil observasi,
c.       Makna yang menunjukkan langsung pada acuan atau makna dasarnya.
Ciri kata bermakna konotasi yaitu:
a.       Makna tidak sebenarnya,
b.      Makna tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual, dan
c.       Makna tambahan berupa  nilai rasa.
2.1. Penganalisisan puisi Angkatan Buta.
Angkatan Buta

Mau apa datang kemari
Hanya unjuk rai
Ijazah harga serupiah
Tak perlu bersusah bergelut berbuku

Dari jauh berlabuh
Hanya pamer bentuk tubuh
tak butuh
Menjauh!

Jika otak angankan angka
Tinggalkan pikir
Plagiatkan diri

Hanya inginkan liur
Mending mendengkur! Nglindur!

Tak mampu matamu lihat dunia
Tangis! Bengis! Najis! Pengais!
Tusukkan garpu makan
Butakan sekalian!

Pundak punah perkasanya
Sana! Sudahi saja sisa usia
                                               
                                                Muntijo

Dalam puisi di atas ada beberapa kata yang memunyai makna denotatif dan konotatif yang akan kita bahas perbaris.
1.      Baris pertama
Mau apa datang kemari
Kata tersebut di atas tergolong memunyai makna denotatif. Karena kata-kata tersebut di atas merupakan sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada pembaca tentang tujuannya datang ke sebuah tempat.
2.      Baris kedua
Hanya unjuk rai
Dalam baris kedua tersebut terdapat makna konnotatif yang memunyai nilai negatif. Kata unjuk rai yang berarti wajah (kasar) dalam bahasa jawa diartikan sebagai memperlihatkan diri, kelebihan, ataupun hartanya.
3.      Baris ketiga
Ijazah harga serupiah
Kata ijazah dalam baris ketiga memunyai arti denotatif sekaligus arti konotatif. Arti denotatif dari ijazah yaitu surat keterangan lulus ataupun sejenisnya. Sedangkan makna konotatifnya adalah ijazah bermakna gelar.
Kata yang mengandung makna konotatif dalam baris ketiga yang lain adalah kata serupiah yang diartikan tidak memunyai harga. Jadi, di baris ketiga ini bisa bermakna bahwa ijazah ataupun gelar tidak memunyai harga.
4.      Baris ke empat
Tak perlu bersusah bergelut berbuku
Memunyai arti denotatif saja atau hanya makna asli yang terdapat di dalamnya, sebagai lanjutan dari kata-kata baris kedua.
5.      Baris ke lima
Dari jauh berlabuh
Kata berlabuh dalam baris ke lima juga memunyai makna denotatif dan konotatif. Arti denotatifnya adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan bahwa perahu akan bersandar di dermaga. Namun di baris ke lima ini kata berlabuh memunyai makna datang.
6.      Baris ke enam
Hanya pamer bentuk tubuh
Kata tersebut di atas hanya memunyai makna denotatif. Yaitu datang hanya untuk pamer bentuk tubuh. Bisa juga di artikan mejeng.
7.      Baris ke tujuh dan delapan
tak butuh
Menjauh!
Baris ke tujuh dan delapan masih hanya memunyai makna denotatif saja. Kata-kata itu dipakai pengarang untuk meluapkan apa yang dirasakan oleh pengarang.
8.      Baris ke sembilan
Jika otak angankan angka
Dalam baris ke sembilan ini pengarang mencoba menggambarkan bahwa seolah-olah yang di imajinasikan pengarang adalah mahasiswa yang hanya berpikiran tentang sebuah nilai yang akan di dapat. Jadi, disini memunyai makna konotatif.
9.      Baris ke sepuluh dan sebelas
Tinggalkan pikir
Plagiatkan diri
Kata-kata yang terdapat di baris ke sepuluh dan sebelas memunyai kaitan makna dengan baris ke sembilan. Baris ke sepuluh dan sebelas bermakna tidak mau berpikir dan hanya bisa mengopy paste pekerjaan orang lain. Pada baris ke sepulih dan sebelas juga memunyai makna konotatif.
10.  Baris ke dua belas
Hanya inginkan liur
Kata hanya inginkan liur memunyai makna konotatif, yaitu hanya ingin bersantai saja.
11.  Baris ke tiga belas
Mending mendengkur! Nglindur!
Baris ke tiga belas juga bermakna konotatif. Yakni memunyai arti mendingan sekalian bersantai sampai sesantai-santainya.
12.  Baris ke empat belas dan lima belas
Tak mampu matamu lihat dunia
Tangis! Bengis! Najis! Pengais!
Pada baris ke empat belas dan lima belas juga memunyai makna konotatif. Yaitu seolah-olah yang di imajinasikan oleh pengarang tak mampu melihat atau merasakan bagaimana kehidupan  itu yang sebenarnya. Yang semula juga di imajinasikan hanya ingin bersantai. Tidak bisa merasakan tangisan, bengis, najis, ataupun melihat keadaan pengais.
13.  Baris ke enam belas dan tujuh belas
Tusukkan garpu makan
Butakan sekalian!
Makna konotatif juga muncul pada baris ke enam belas dan tujuh belas. Yaitu pada kata-kata Tusukkan garpu makan, butakan sekalian!. Makna dari kata-kata tersebut disini adalah berikan saja mereka kenyamanan sekalian. Karena biasanya orang desa yang makan memakai garpu adalah ketika memakan makanan enak, atau mungkin juga karena latar belakang pengarang yang juga orang desa. Sedangkan kata-kata butakan sekalian bermaksud agar mereka semua yang bersantai,tetap larut dalam kesantaian dan kenyamanan itu, tetap tidak memperdulikan semua trangisan, bengis, najis, dan pengais yang dikatakan oleh pengarang sebelumnya.
14.  Baris ke delapan belas
Pundak punah perkasanya
Di baris ke delapan belas ini semuanya kata-katanya mengandung makna konotatif. Yang dimaksud pundak disini adalah generasi muda. Jika dikaitkan dengan kata dan bait sebelumnya, maka arti disini adalah jika para pemuda semua sudah kehilangan semangat dan hanya bersantai-santai, hilanglah pula kekuatan atau keunggulan dari para generasi tersebut.
15.  Baris ke sembilan belas
Sana! Sudahi saja sisa usia
Makna konotatif yang terkandung disini adalah seperti halnya kata “mati saja!”. Dengan rincian jika dikaitkan dengan kata dan bait sebelumnya. Daripada menjadi generasi yang kurang bersemangat dan hanya bisa bersantai-santai saja, mendingan mati saja, daripada hidup hanya menjadi benalu tanpa sumbangsih apapun dan tanpa kerja keras.

D.    Kata-kata bermakna (pertemuan ke 2)
Pengiasan merupakan cara penyair mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak dengan penggunaan kata-kata kias, dan perilaku pengiasan dalam pemakaian bahasa sehari-hari atau dengan kata lain pengiasan ialah penggunaan kata atau ungkapan dalam puisi sedemikian rupa sehingga timbul makna kias yang dapat memperjelas, melengkapi, dan memperkhas imaji sesuatu yang diungkap dalam puisi. Jadi pengiasan bukan upaya puisi menjadi pelik tetapi supaya lebih konkret, cermat, dan tepat sehingga dengan mudah pula dapat ditangkap, dirasa, dan didengar oleh pembacanya.
Perhatikan puisi karya Chairil Anwar berikut:

AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Puisi merupakan genre sastra yang paling banyak menggunakan makna kias. Kata-kata yang dipilih penyair dipertimbangkan betul dari aspek dan efek pengucapannya. Makna kias kadang sulit ditafsirkan. Misalnya dalam puisi “Aku” karya Khairil Anwar, binatang jalang dari kumpulannya terbuang dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Karena yang sakit bukan fisik melainkan jiwanya, maka luka dan bisa kubawa berlari, terus berlari. Dengan berlari maka akan hilang pedih peri(h). Jika luka fisik, tentu akan sulit hilang pedih perihnya tetapi karena yang luka adalah jiwa maka dengan dibawa berlari atau tidak dihiraukan, pedih perih luka itu akan hilang.

Pengiasan yang membandingkan suatu hal dengan yang lain dipergunakan untuk merangsang daya bayang pembaca atau pendengar. Mengiaskan suatu keadaan dapat dilakukan secara langsung seperti yang sudah dijelaskan di atas dan dapat juga dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan kata-kata seperti, umpama, bagai, laksana, dan sebagainya. Perhatikan puisi karya Lea Cancerina berikut:

SEMINYA ANGGREK DI HALAMAN DEPAN

Putih bagai buih
seputih cinta yang kumiliki,
seputih kasih yang kunikmati
darinya...
dia datang ...
di kala anggrek di halaman
sedang semi,
mekar ... harum ... putih
Di ujung Juli
diawal bulan kedelapan
ambang bahagia terpancang
di muka kita berdua
Saksi abadi ...
kekal, tenang bahagia
bersama seminya anggrek di halaman

Kiasan dalam baris (1), (2), dan (3) bait pertama adalah kiasan tak langsung. Kiasan dalam baris (1), (2), dan (3) bait ketiga adalah kiasan tak langsung. Penafsiran makna dalam kiasan tidak langsung biasanya lebih sulit daripada penafsiran makna dalam kiasan langsung.



E.      Lambang (pertemuan ke 2)
Perlambangan merupakan cara penyair mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak dengan penggunaan kata-kata lambang, dan perilaku perlambangan dalam pemakaian bahasa sehari-hari.
Dalam puisi, banyak digunakan lambang yaitu penggantian suatu hal atau benda dengan hal atau benda lain. Ada lambang yang bersifat kedaerahan, nasional maupun universal. Misalnya bendera adalah lambang identitas negara, bersalaman adalah lambang persahabatan, pertemuan atau perpisahan. Adapun jenis-jenis lambang yang ada dalam puisi meliputi lambang benda, lambang warna, lambang bunyi, dan lambang suasana.

Lambang warna memberi makna tambahan pada warna untuk mengganti atau menambahkan makna sesungguhnya. Misalnya warna hitam melambangkan kesedihan, warna putih kesucian, warna kuning kesetiaan, warna biru harapan, dan sebagainya.
Lambang bunyi artinya makna khusus yang diciptakan oleh bunyi-bunyi atau perpaduan bunyi-bunyi tertentu. Misalnya bunyi seruling yang mendayu-dayu mengingatkan pada tanah pasundan, jawa barat.
Lambang suasana artinya peristiwa atau keadaan yang tidak digambarkan seperti apa adanya, tetapi diganti dengan keadaan yang lain. Misalnya hujan gerimis melambangkan suasana sedih, lintang kemukus melambangkan bencana, dan sebagainya
Lambang benda menggantikan suatu hal dengan benda misalnya dalam puisi Rendra yang berjudul “Surat Kepada Bunda Tentang Calon Menantunya”, burung dara jantan melambangkan orang yang setia, sepatu yang berat serta nakal melambangkan jejaka yang belum berumah tangga.
Perhatikan puisi karya Bambang Sugeng berikut:

SEPANJANG JALUR HITAM

sepanjang jalur hitam
ada penyesalan diri
entah terpaksa atau dipaksa
oleh keadaan

kini tinggal sepercik pengharapan
untuk bertaubat kepada-Nya
belumlah terlambat

(sepanjang jalur hitam
tidak seluruhnya hitam).

Larik pertama puisi di atas mengandung makna lambang yaitu jalur hitam. Yang dimaksud jalur adalah jalan hidup dan yang dimaksud hitam adalah gelap, suram, atau dosa. Jalur hitam ditafsirkan secara simbolis sebagai jalan hidup yang gelap, jalan hidup yang menyimpang dari jalan kebenaran.

D.          INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI      :
No
Indikator Pencapaian Kompetensi 
Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa
Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif
1
Mengidentifikasi (majas, rima, kata-kata berkonotasi dan bermakna lambang)
·   Bersahabat/ komunikatif
·   Tanggung jawab

·   Kepemimpinan
2
Menanggapi unsur-unsur puisi yang ditemukan
3
Mengartikan kata-kata berkonotasi dan makna lambang

E.           TUJUAN PEMBELAJARAN* :
Siswa dapat:
1.     Mengidentifikasi majas/gaya bahasa yang dipergunakan oleh penyair.
2.     Mengidentifikasi rima atau persajakan akhir.
3.     Mengidentifikasi kata-kata berkonotasi dan bermakna lambang.
4.     Menanggapi unsur-unsur puisi yang ditemukan
5.     Mengartikan kata-kata berkonotasi dan makna lambang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar